REKONSTRUKSI PENGAMALAN TASAWWUF
MENURUT HASAN HANAFI DALAM BUKU ”MIN AL-FANĀ’ ILĀ AL-BAQĀ’” DAN IMPLIKASINYA DALAM KEHIDUPAN KONTEMPORER”.

Penulis: Andi Wahyudi, L.C., M.A
ISBN: 978-623-0000-00-0
Hal: vi + 318
Ketebalan: 1,6 cm
Stok: Kosong
Sipnosis:
Taṣawwuf sejak awal kemunculannya merupakan dimensi batin Islam yang berfungsi membentuk kesadaran spiritual, etika personal, dan tanggung jawab sosial manusia. Dalam tradisi Islam klasik, taṣawwuf tidak dipahami semata-mata sebagai pengalaman mistik individual, melainkan sebagai jalan penyucian jiwa (tazkiyat al-nafs) yang bertujuan membentuk manusia paripurna (al-insān al-kāmil), yakni manusia yang mampu menghadirkan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan sosial dan historis. Oleh karena itu, taṣawwuf pada mulanya memiliki relasi erat dengan realitas kemanusiaan dan tidak berdiri terpisah dari dinamika sosial umat. Namun, dalam perkembangan kontemporer, pengamalan taṣawwuf justru menunjukkan berbagai problem serius yang menandai adanya keterputusan antara ideal normatif taṣawwuf dan realitas praksis kehidupan umat Islam dewasa ini.
Salah satu problem utama dalam pengamalan taṣawwuf kontemporer adalah kecenderungan reduksi taṣawwuf menjadi praktik ritualistik dan individualistik. Taṣawwuf sering kali dipersempit maknanya menjadi sekadar aktivitas zikir, wirid, riyāḍah, dan latihan-latihan spiritual personal yang bersifat repetitif. Praktik-praktik tersebut memang memiliki legitimasi dalam tradisi taṣawwuf klasik, namun ketika dilepaskan dari dimensi etika sosial dan tanggung jawab historisnya, taṣawwuf kehilangan daya transformatifnya. Dalam konteks ini, taṣawwuf lebih dipahami sebagai sarana pencapaian ketenangan batin individual daripada sebagai jalan pembentukan kesadaran kritis dan etika sosial. Akibatnya, pengalaman spiritual menjadi tujuan akhir, bukan sarana untuk membangun komitmen moral dalam kehidupan bermasyarakat.
No Responses